
Tiada ada apa-apa selain hanyalah jumeneng pribadi dengan rasa (rasa sejati bukan rasa indera), rasa itu tanpa batas bila dikuantifikasi dan diuraikan, bagaikan samodra tinta tiada habis dipakai utk menulis. Jumeneng pribadi adalah tunggal tetap langgeng.
Manusia itu menyatu dalam keadaan sejati dengan “yang jumeneng pribadi”, hanyalah rasa-pangrasa nya saja yang terpisah-pisah. Karena sebenarnya yang direngkuh (oleh yang jumeneng pribadi) itu tidak ada, maka jika kesadaran dipusatkan kepada “yang merengkuh” maka sirnalah diri manusia, yang ada hanyalah yang merengkuh. Demikian pula sebaliknya, jikalau dirinya yang disadarinya maka ia kehilangan yang merengkuhnya (namun sebenarnya tidak, hanya silau atau tertutup, - "kondisi ini yang sering saya alami").
Yang disebut dengan kata ingsun, pribadi, aku, adalah yang merengkuh segala rasa-pangrasa, ada juga yang menyebutnya guru sejati, diri sejati, yaitu adalah yang tidak punya arah dan tempat (ora arah ora enggon), setiap tempat ketempatan, lembut sekali saking lembutnya tak dapat dijimpit, namun besarnya memenuhi jagad raya. Tak dapat dibayangkan, yang langgeng tak ada awal dan akhir. Dalam sastra jawa biasa dikiaskan sebagai “kombang mangajabing tawang sepi” (seekor kumbang dilangit yang sepi suwung). Itulah sang pamomong jiwa, yang juga disebut “jatiningrat”, kalau dirasakan berada dipaling ujung (mentok-mentoknya) batin, merengkuh setiap batin dari semua makhluk, tiada ada luar maupun dalam baginya, dialah yang menghidupi setiap nyawa yang ada di badan.
Maka, bila memakai cara “bahasa” diatas, haruslah berhati-hati untuk menyebut aku, jikalau keliru, maka yang disebut aku atau pribadi itu adalah diri. Sebenarnya seperti apa wujud pribadi itu ? Semuanya tiada wujud, hanya pribadi yang wujud (dalam kitab suci tertulis: “ AKU tiupkan rohKu …..” dsb.).
Sering kali yang disebut sebagai aku adalah jisim, jasad (orang), diseluruh jagad raya hanya satu, yaitu orang yang menyebut aku tadi, sedangkan orang-orang lainnya (walaupun juga menyebut dirinya sendiri aku) tidaklah dianggap pribadi (aku), bahkan Allah, Hyang Agung, juga dianggap sebagai yang lain, diluar dirinya.
Pernyataan: “Aku ada didalam badanku” apakah itu benar adanya? Mana yang lebih tepat dengan “Badanku ada didalam aku”.
“Aku ada di surga atau di neraka” versus “Surga dan neraka itu ada didalam aku”.
“Aku berada didalam jagad tujuh” versus “Jagad tujuh ada didalam aku”.
Yang disebut sebagai aku bukanlah badan, bukan rasa, bukan angan-angan, bukan akal-budi, bukan nyawa. Badan, rasa, angen-angen, akal-budi, nyawa itu semua adalah jisim, yang direngkuh oleh aku, akulah yang merengkuhnya.
